Jumat, 19 Oktober 2018

Kader IMP Survei IPK di Kawasan Esktrem Mertelu dan Ngalang

Melawan ekstremnya topografi wilayah Gedangsari dan teriknya sengatan matahari, kader IMP Gedangsari, Selasa (18/9) melakukan pengumpulan data Indikator Pembangunan Keluarga (IPK), sebagai tugas yang diberikan pemerintah melalui BKKBN. Survei Indikator Pembangunan Keluarga (IPK) yang dilakukan oleh BKKBN Pusat ini bertujuan untuk menyediakan basis data kependudukan dan pembangunan keluarga guna perumusan kajian perumusan indikator pembangunan keluarga. BKKBN Pusat mengambil wilayah sampel DIY di Kabupaten Gunungkidul dan Kulonprogo. Untuk Gunungkidul kecamatan terpilih adalah Gedangsari, Semanu dan Semin yang masing-masing diwakili oleh 2 desa sampel.

Di Kecamatan Gedangsari, desa sampelnya Mertelu dan Ngalang, yang nota bene memiliki wilayah yang cukup sulit. Ini tentu menjadi tantangan tersendiri, baik bagi kader pendata, PKB ataupun juga Tim dari BKKBN Pusat yang dijadwalkan besok Rabu (19/9) akan datang ke Gedangsari. Di hari pertama saja, ketika melakukan pengumpulan data kelapangan, kader IMP yang didampingi oleh PKB setempat harus berjuang ekstra, karena lokasinya yang tidak akseptabel, dan sulit dijangkau oleh kendaraan, kendati roda 2 sekalipun. Terkadang untuk menemui responden harus ditempuh dengan berjalan kaki sekian meter dengan kondisi jalan naik turun yang belum bisa dikatakan layak (belum cor blok, apalagi aspal). Rumidah, kader pendata yang merupakan peduduk setempat, sambil dibonceng oleh PKB-nya (karena motornya tidak berani ia naiki sendiri) menuturkan: "Pak, perjalanan kita hari ini cukup menantang, tapi ini baru awal, masih banyak wilayah yang lebih ekstrem lagi." Di perjalanan kami menemui responden di Dusun Krinjing.




Lain ceritanya lagi dengan kader pendata dari Desa Ngalang Sulasmi yang rumahnya di wilayah bawah. Setelah turun dari puncak Dusun Boyo (bersebelahan dengan puncak Nglanggeran) sampai di jalan beraspal langsung berkomentar, "Oalah, Pak, nemui jalan aspal, kayak menemui jalan surga." Dia mengungkapkannya dengan ekspresi gembira.

Proses survei dilakukan dengan kunjungan ke rumah KK yang telah tetapkan menjadi sampel. Setelah responden menjawab kuisioner data IPK, hasilnya harus segera diserahkan kepada supervisor, yakni PKB setempat untuk dikoreksi dan nantinya dientri oleh Tim Pusat.

Sebagai bagian/unit terkecil dari struktur mekanisme kerja KKBPK, kader IMP merasa terpanggil untuk turut serta mensukseskan program BKKBN yang salah satunya adalah survei pengumpulan data IPK ini. Mereka, para kader IMP, bekerja dengan penuh dedikasi tinggi, sebagai ujung tombak di garis terdepan membantu petugas melayani masyarakat.


Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa pembangunan nasional yang diselenggarakan Pemerintah di segala bidang, pada intinya untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Undang-Undang tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga mengamanatkan Pemerintah untuk menetapkan kebijakan pembangunan keluarga melalui pembinaan ketahanan dan kesejahteraan keluarga. BKKBN sebagai institusi yang diberikan mandat untuk menjalankan program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK), harus bisa menterjemahkan kebijakan pembangunan keluarga melalui berbagai kegiatan di lapangan.(*) [Purwadi, PKB Gedangsari]

Pelatihan Kelompok UPPKS di Kampung KB Wunut, Sumberwungu

Rabu (19/09) di Kampung KB Padukuhan Wunut Desa Sumberwungu, Tepus, diselenggarakan Pelatihan Kelompok UPPKS Apsari,  yang diikuti anggota kelompok  sejumlah 25 orang dan dihadiri oleh Kepala Desa Sumberwungu, Dukuh Wunut dan Ketua Kampung KB. Pelatihan dilaksanakan selama 3 hari dari tanggal 19 sampai dengan 21 September 2018. Pelatihan dimulai dengan berdoa bersama-sama dipimpin oleh penyelengara, kemudian dilanjutkan sambutan Kepala Desa Sumberwungu, Tukinah, AMd Pd.

Kata Tukinah, setelah Padukuhan Wunut ditunjuk sebagai Kampung KB maka akan diprioritaskan dalam pelaksanaan pembangunan. Seperti saat ini dari BKKBN bekerjasama dengan DP3AKBPM & D Kabupaten Gunungkidul mengadakan pelatihan kelompok UPPKS yang berada di Padukuhan Wunut.

Lanjut Tukinah, semua lapisan masyarakat di Padukuhan Wunut diharapkan agar memanfaatkan anggaran yang telah dikucurkan dari Pemerintah Desa Sumberwungu yang bisa berdaya guna dan berhasil guna. Dalam pelatihan kelompok UPPKS ini, ujar Tukinah, diharapkan semua peserta diharapkan mengikuti secara intensif.

Mengakhiri sambutannya, Kades berharap nanti selepas pelatihan ini kelompok UPPKS-nya semakin maju. Setelah itu Kades membuka pelatihan kelompok UPPKS dengan ucapan basmalah dilanjutkan ketukan dua kali. Kata Tukinah, ketukan 2 kali diasumsikan “2 Anak Cukup Bahagia Sejahtera,” yang disambut tepuk tangan hadirin.

Acara dilanjutkan pengarahan Koordinator PKB Kecamatan Tepus, Edy Subambang, S Sos. Edy mengatakan, bahwa pelatihan kelompok UPPKS ini memang diperuntukkan di wilayah Kampung KB, sehingga harapannya setelah anggota kelompok ini dilatih selama 3 hari yang 2 hari materi pengetahuan dan 1 hari terakhir pelaksanaan praktik. Dengan harapkan nantinya ibu-ibu pasangan usia subur  (PUS) berdaya kreatif untuk membuat produk pengolahan makanan atau industri rumah tangga.

Kata Edy, kelompok UPPKS merupakan solusi bagi kegiatan ibu-ibu dalam rangka berusaha ekonomi produktif baik secara berkelompok maupun secara individu yang dibingkai dalam wadah kelompok UPPKS. Lanjut Edy, bahwa  hari pertama disampaikan 3 narasumber, yakni oleh:

1. Astri Muryanti, dari PKK Kecamatan, dengan materi  Diversifikasi Pangan/ Penganekaragaman Pangan.
2. R Asis Budiarto,  SSos, Camat Tepus dengan materi Pemanfaatan Potensi Lokal Dalam Pemberdayaan Keluarga.
3.  Hery Sudaryanto, Skep, MM  Kepala UPT Puskesmas Tepus   dengan materi Prosedur dan Persyaratan Pembuatan PIRT.

Sedangkan pada latihan hari kedua disampaikan juga 3 narasumber oleh:
1. Dwi Asnuri, SE. Ketua UPK Mekarsari Kecamatan Tepus.
2. Suwarsih, kader UPPKS Melati Desa Sumberwungu, pelaku usaha.
3. Moh Amirudin, S Sos, dari Bidang Dalduk dan KB  DP3AKBPM Dan D Kabupaten Gunungkidul dengan judul materi Kebijakan Pemberdayaan Ekonomi Keluarga melalui UPPKS.

Mengakiri pengarahannya kata Edy, untuk hari ke 3 pratik cara pembuatan dan pengolahan produk makanan yang akan pandu oleh narasumber Supatminah dari kelompok UPPKS  Melati Pakwungu.

Kemudian dilanjutkan penyampaian materi hari pertama oleh Astri Muryanti, SIP, pengurus PKK Kecamatan Tepus dengan materi Deversifikasi Pangan.
Kata Astri, bahwa masyarakat Indonesia ketergantungan beras sangat tinggi. Padahal, sumber makanan yang mengandung karbohidrat sangat banyak dan beragam seperti jagung, ketela atau ubi-ubian.

Prinsip deversifikasi pangan, menurut Astri, adalah pemantapan swasembada pangan (beras), perbaikan mutu gizi pangan, peningkatan nilai tambah non beras.
Mengakiri materinya, Astri mengajak peserta agar membudidayan beranekaragam tanaman pangan untuk sebagai bahan baku olahan makanan kuliner untuk meningkatkan penghasilan keluarga.

 Kemudian dilanjutkan penyampaian materi oleh Camat Tepus, R Asis Budiarto, S Sos yang berjudul,  Pemanfaatan Potensi Lokal Dalam Pemberdayaan Keluarga.

Kata Asis, program Pemerintah adalah mengurangi kemiskinan dan peningkatan sumber daya manusia, pemberdayaan sumber daya lokal melalui pengembangan inovasi teknologi yang tepat, dengan memanfaatkan sumberdaya lokal misal pekarangan yang bisa dimanfaatkan untuk penanaman jahe merah, sayuran dan ubi –ubian, dan buah.

Menutup materinya, Asis mengajak kelompok UPPKS untuk bisa melaksanakan budidaya penanaman apotik hidup dan warung hidup dan tanaman yang mengadung karbohidrat sebagai sumber penghasilan di Kampung KB.(*) [Edy Subambang, manajer BPKB Tepus]

Selasa, 02 Oktober 2018