Jumat, 25 Agustus 2017

Ketua DPRD Gunungkidul: "Saya Ikut Vasektomi Demi Keluarga, Demi Gunungkidul, Demi Indonesia...!"


Beberapa waktu lalu, Sabrur Rohim, MSI (PKB Girisubo) dan Sujadi (PKB Wonosari), berkesempatan menemui Suharno, SE, Ketua DPRD Kab. Gunungkidul periode 2014-2019. Rumahnya di Jl. Wonosari-Nglipar Km. 04, Tegalrejo, Gari, Wonosari, Gk. Keperluannya adalah untuk interview, wawancara langsung, terkait kesertaan yang bersangkutan dalam program KB pria, yakni MOP (medis operasi pria), atau yang lazim disebut vasektomi. Bagi kami, wawancara ini penting, mengingat status Pak Harno—begitu beliau akrab disapa, sebagai tokoh masyarakat, pejabat negara, yang tentu saja keikusertaannya dalam program KB akan menjadi teladan bagi kaum lelaki di Gunungkidul untuk menyukseskan program pembangunan melalui program KB, yakni dengan menjadi peserta KB pria (vasekotmi). Berikut kami proses wawancaranya.

Sujadi: Tujuan kami yang pertama datang ke sini adalah untuk silaturahim. Yang kedua tidak ada lain terkait dengan posisi Pak Harno sebagai seorang anggota dewan yang mengikuti program MOP. Terus terang, dalam konteks ini Bapak bisa menjadi motor. Kami ingin mewawancarai Bapak untuk kami publish di media massa yang kami miliki, yakni blog ipekbgunungkidul.blogspot.com. Apa yang kami lakukan ini tidak bermaksud untuk memberi keuntungan bagi satu pihak. Tetapi, kami yakin bahwa dalam sindikasi ini akan ada keuntungan dari dua pihak. Selaku anggota legislatif, publikasi ini bisa menjadi media bagi Bapak untuk berkomunikasi dengan masyarakat umum, dan khususnya yang menjadi konstituen Bapak. Di sisi lain, kalau ada kesan bahwa kami seperti ‘memperalat’ Pak Harno agar program kami maju, itu memang kami akui. Toh, kita sama-sama bertugas untuk mengabdi bagi kepentingan masyarakat Gunungkidul. Malahan, ke depan, mungkin kami akan sering mengundang Bapak hadir dalam even-even mobilisasi massa untuk ikut program MOP. Itu sebagai pengantar saya saja, waktu selanjutnya saya berikan kepada rekan saya, Sabrur.

Sabrur: Baiklah. Mungkin langsung saja pertanyaan saja, apa yang memotivasi Bapak mengikuti program MOP ini? Dengan kata lain, apa alasan Bapak ikut program ini?

Suharno: Sebelumnya, terimakasih atas kedatangannya ke sini. Terkait dengan pertanyaan Anda, pertama-tama, kita semua tahu, bahwa itu kan program Pemerintah, jadi saya musti mendukungnya. Itu yang prinsip. Dari faktor kepentingan keluarga, istri saya sendiri menginginkan hal tersebut, dan saya sendiri juga mau. Di sisi lain juga, istri saya kalau bekerja keras itu merasa sesak di dada, yang menurut dugaan disebabkan oleh KB hormonal. Sebagai suami, saya bertanggungjawab atas kondisi istri. Karena istri yang menghendaki, ya sudah, saya ikuti program tersebut.

Suharno, SE, lahir di Gunungkidul,29 September 1971. Anak dari pasangan Alex Marzuki dan Juminten ini menikahi Armini, gadis kelahiran Gunungkidul, 16 April 1979, dari pasangan Hadi Mulyono dan Reti. Pendidikan terakhir Suharno adalah STIE “YO”, lulus tahun 2000, sedangkan sang istri pendidikan terakhirnya SMU. Terkait keputusan Suharno mengikuti MOP, sebagaimana pengakuannya, Armini sangat mendukung. Sewaktu kami mewawancarai sang suami, Armini mendampingi.


Sabrur: Maaf, saya akan bertanya ke Ibu Armini. Sebelum ini, Ibu memakai alat kontrasepsi apa, ya?

Armini: Saya pernah memakai suntik KB selama tiga tahun, tetapi berat badan saya bertambah banyak. Pernah juga memakai spiral, kurang lebih lima
tahun, tetapi itu menjadikan perut saya sakit. Ketika spiral itu saya lepas, perut saya tidak sakit lagi. Jadi, dugaan saya, sakit tersebut mungkin dampak dari spiral yang tidak cocok dengan kondisi rahim saya. Sementara ini, sambil menunggu Bapak benar-benar steril, saya memakai alkon pil KB.

Sabrur: Terus, dari pihak ibu sendiri memang benar-benar menyetujui, kan, Pak?

Suharno: Ya jelas. Kita sebagai satu keluarga kan berembug dalam segala hal. Tujuan KB sendiri kan mewujudkan keluarga harmonis dan sejahtera. Kita pun menerapkan itu. Harus ada kesepakatan keluarga. Ketika keluarga mendukung, ya jalan lah. Keluarga saya, terutama istri, mendukung. Itu yang membuat saya makin mantap.

Sabrur: Ini pertanyaan agak nakal, Pak. Ada tidak kekhawatiran dari kalangan ibu-ibu, bahwa setelah suami ikut program MOP, jangan-jangan karena sudah merasa steril, aman, terus terbuka kemungkinan selingkuh. Bagaimana pendapat Bapak, atau Ibu barangkali?

Armini: Sama sekali tidak. Orang saya sendiri yang memotivasi Bapak ikut program ini. Saya tidak khawatir apa-apa. Karena kita saling percaya.

Suharno: Betul kata istri saya. Intinya kepercayaan, mas. Kalau mau melakukan itu, tidak usah ikut program KB juga bisa. Itu bukan alasan utama. Yang penting karakter dari manusianya.

Sabrur: Anak Bapak sekarang berapa?

Suharno: Sudah empat (sambil tertawa).

Sabrur: Sudah tidak ingin tambah lagi, kan, Pak?

Suharno: Insya Allah sudah cukup, lah. Karena sebenarnya saya kan sudah melanggar. Mustinya, kan, dua. Saya malah sudah punya empat.

Dari pernikahannya dengan Armini, Suharno kini dikaruniai empat orang anak, yakni: (1) Riyan Eko Wibowo, lahir 30 Maret 1992 (anak angkat, karena ditinggal mati oleh orangtuanya, yang nota bene juga saudara Suharno sendiri); (2) Silvia Harminanda Putri, lahir 23 April 1999; (3) Aleksander Tahta Ma’ruf, 30 Juli 2006; dan (4) Kholifah Harminanda Putri, 14 April 2007. Dalam kesehariannya sebagai wakil rakyat, Pak Harno membuka diri untuk berkomunikasi dengan warga masyarakat dari mana saja, siapa saja, selama 24 jam. Semboyannya yang terus dipegang kapan dan di mana pun hanya satu: berjuang untuk rakyat. “Satu untuk rakyat, dua untuk rakyat, tiga untuk rakyat, empat untuk rakyat, seterusnya untuk rakyat,” ujar Pak Harno penuh semangat. 

Sabrur: Begini, Pak. Selama ini kan ada kesan bahwa KB itu urusan kaum ibu, kaum bapak itu tidak usah ikut KB. Ini kan berarti peran pria dalam ber-KB masih minim. Dalam konteks Gunungkidul, misalnya, KB pria, yakni kondom dan MOP, hanya di kisaran angka 2 persen. Bagaimana pandangan Bapak tentang fenomena ini?

Suharno: Pertama-tama, kenapa masih minim, itu karena kurang sosialisasi. Bagaimana pun juga, sosialisasi itu penting. Masyarakat belum paham semua, apakah KB itu hanya untuk perempuan, ataukah laki-laki juga bisa? Saya yakin, mungkin baru 40 persen kaum laki-laki yang tahu, atau mungkin malah kurang dari angka ini. Di sisi lain, kaum ibu pun mungkin yang ada dalam pikiran justru malah kekhawatiran seperti yang Anda sampaikan tadi, bahwa jangan-jangan setelah ikut program KB justru digunakan untuk kepentingan yang ‘lain’. Itulah,menurut saya, di sini pentingnya menumbuhkan rasa saling percaya dalam keluarga.Selanjutnya yang penting juga adalah kesadaran kita, bahwa ini adalah program pemerintah, sehingga seharusnya kita mendukung, yakni dengan mengikuti program itu sendiri.

Sabrur: Pengalaman Bapak sendiri ketika menjelang tindakan operasi bagaimana?

Suharno: Memang pertama-tama agak berpikir juga saya. Dalam bayangan saya, operasi itu kan bagi orang yang sakit. Lha ini saya tidak sakit kok mau dioperasi. Nah, begitu masuk ke dalam ruangan, oh, ternyata operasinya cuma operasi kecil. Hanya dipotong, ditali,terus selesai. Dalam hitungan menit, tidak seperti operasi usus buntu, dsb. Hanya saluran yang sangat kecil yang dipotong. Jelas, memang awalnya ada ketakutan. Agak lucu kalau saya katakan di sini. Alat kelamin saya, kalau dipegang kan mustinya kenceng, lha ini dipegang kok malah mengkeret. Hahaha...! Tetapi ya itu tadi. Saya sudah termotivasi, bahwa ini semua saya lakukan demi keluarga. Dan ternyata, apa yang saya rasakan, tidak ada sakit atau nyeri sedikit pun. Makanya, begitu selesai dan sampai di rumah saya langsung sosialisasi ke masyarakat luas. Sebab, hidup saya setiap saat memang saya dedikasikan untuk rakyat. Sampai sekarang pun saya belum berhenti mensosialisasikan program ini, agar masyarakat tahu tentang program ini. Bahwa ini program yang baik, tidak perlu takut dioperasi. Kalau saya ibaratkan, sakitnya tidak lebih dari sakit karena digigit semut. Apalagi saya telah melaksanakan program ini, dan dampaknya, tidak ada kendala apa pun dalam diri saya.

Sabrur: Ada juga kekhawatiran di kalangan ibu-ibu, misalnya, bahwa setelah di-MOP jangan-jangan vitalitas suami jadi menurun. Bagaimana pendapat Bapak tentang ini?

Suharno: Memang kalau dituruti, kekhawatiran masyarakat ya ada saja. Tetapi saya katakan, itu tidak benar. Saya sudah mengalaminya sendiri, dan tidak ada masalah. Dalam berhubungan seks dengan istri juga tidak ada masalah, kok. Sedikit pun tidak ada masalah.

Sabrur: Malah saya ada rujukan lain, Pak. Ada seorang PNS di kecamatan saya, yang mengalami perembesan ginjal. Menurut saran dokter, suatu saat harus dioperasi. Kalau ingin memperlambat operasi, maka ia harus banyak mengasup makanan yang mengandung protein, seperti sarang burung walet dan bahkan empedu ular kobra. Ternyata ada keajaiban, bahwa setelah ikut program MOP, keluhan yang terkait dengan ginjalnya tadi sedikit demi sedikiti hilang, dan ketergantungannya pada makanan-makanan berprotein tinggi seperti sarang burung walet dan mepedu kobra itu sudah tidak ada lagi. Menurut diagnosis dokter, kebutuhan protein tadi dikompensasi oleh sperma yang tidak keluar (karena MOP) dan kembali ke tubuh menjadi energi. Terus begini, Pak. Tadi Bapak mengatakan bahwa ini untuk membantu pemerintah, bukan semata-mata karena faktor sayang istri, kepentingan pribadi, dsb. Sekarang, dalam konteks ini, bagaimana saran Bapak kepada stakeholder, seperti Pemkab, SKPD, Camat, petugas lapangan, aparat pemerintah desa, dan sebagainya terkait program KB?

Suharno: Menurut saya, sebagai wakil rakyat,ditindaklanjuti dengan sosialisasi yang aktif. Ketika ada Camat rapat, titipkan program itu. Ketika Kades rapat, titipkan program itu. Petugas KB itu, kan, terbatas. Tidak mungkin dengan petugas yang terbatas itu sosialiasasinya akan efektif. Nah, dengan dititipkan kepada pejabat-pejabat yang strategis, saya yakin sosialisasinya akan lebih cepat sampai ke masyarakat. Saya sendiri, misalnya, sebagai wakil rakyat bisa ikut melakukan sosialisasi. Barangkali DP3AKBPMD memiliki forum penyuluhan seperti itu, saya siap meluangkan waktu untuk menjadi narasumbernya.

Sabrur: Bagaimana sesungguhnya pandangan Bapak tentang program kependudukan di Indonesia?

Suharno: Saya memandangnya secara kedaerahan saja, dalam konteks Gunungkidul, misalnya. Saya kan menjadi anggota DPR sudah tiga periode, dan saya tahu dan mencermati secara serius masalah kependudukan di Gunungkidul. Di periode pertama, yang saya tahu, jumlah jiwa di Gunungkidul berkisar pada angka 500-an ribu, dan sekarang dalam waktu 15 tahunan sudah bertambah di angka hampir 1 jutaan. Kalau para suami, lelaki, tidak ikut membantu program KB, pasti akan terjadi pembekakan penduduk. Di sisi lain, manakala penduduknya banyak, maka lahan pertanian berkelanjutan akan habis, karena tergerus oleh pembangunan rumah-rumah. Sementara di Gunungkidul ini penghasilan utamanya kan di sektor pertanian. Kita sudah membuat Perda tentang lahan pertanian berkelanjutan. Tetapi ke depan ada kekhawatiran, bahwa lahan pertanian akan terkikis dikarenakan pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali. Bukannya kita berharap kematiannya semakin cepat. Tetapi, bayangkan saja, kalau rasionya 10 (orang) banding 1 (lahan), maka itu akan membahayakan masa depan kita semua. Maka sesungguhnya era Pak Harto dulu, yang konsern pada pembangunan dan KB, harus kita akui sebagai program yang bagus. Saya sepakat dengan reformasi.
Tetapi, saya juga memaknai reformasi secara lain, yakni melihat ke depan dengan juga melihat masa lalu. Di masa lalu, di era Orde Baru, pasti ada yang baik juga, maka itulah yang kita ambil. Sedangkan yang tidak baik, ya kita buang saja.

Sabrur: Betul, Pak. Apalagi sesungguhnya hasil daripada program KB, berbeda dengan program-program lain, kan baru bisa kita lihat sepuluh-duapuluh tahun yang akan datang, tidak instan. Ya, kan, Pak?

Suharno: Betul sekali. Kalau kita tidak mengaitkan dengan masalah kependudukan, pasti kita tidak bisa melakukan analisis program dan hasil pembangunan dengan baik. Tahun 2011, penduduk kita sekitar 680-an ribu sekian, 2013 sudah mendekati angka 750 sekian, dan seterusnya. Itu menjadi keprihatinan kita semua. Faktor apa yang menyebabkan itu semua? Tentu saja karena partisipasi masyarakat dalam program KB yang rendah. Itulah yang mendorong saya ikut program KB MOP ini. Saya harus mulai dari diri saya sendiri. Kecil yang bisa saya berikan, semoga berguna bagi bangsa dan negara ini. Apalagi jika ini terus diikuti oleh warga-warga lain. Sekarang bayangkan saja, ketika penduduk kita banyak. Kalau memang pendidikannya ditanggung semua oleh negara, mungkin tidak masalah, meski hal itu tidak mungkin. Coba sekarang jika ada keluarga yang tidak bisa menyekolahkan semua anaknya, karena anaknya banyak, itu, kan, berarti mereka belum sejahtera. Sekarang kalau sejahtera ukurannya kepemilikan lahan, kendaraan, hewan ternak, dan sebagainya, dan salah satu anaknya sakit, maka semua kekayaan itu akan dijual dan habislah semuanya untuk kesehatan. Dan kalau jumlah anaknya banyak, bebannya akan semakin berat. Hal-hal seperti itulah yang kita kaji bersama. Harapan saya, semua masyarakat mendukung program KB ini. Kalau bisa, ayo semua kaum bapak ikut program ini, jangan hanya kaum ibu. Kita sebagai percontohan. Saya sudah memberi contoh. Saya sudah siap, demi Gunungkidul, demi bangsa ini. Tetapi, begini, terkadang terjadi ada masyarakat yang justru malu setelah ikut program MOP. Mereka takut diolok teman-temannya, “Lelaki, kok, KB,” dan seterusnya. Tetapi saya yakin, kalau kita bisa menjelaskan apa itu MOP, dampaknya, tujuannya, dan sebagainya, saya yakin tidak akan terjadi seperti itu (malu). Sebab, semustinya mereka bangga, karena yang dilakukan adalah demi kesejahteraan bangsa, negara, demi Gunungkidul, demi keluarga. Saya kurang sepakat dengan filosofi “banyak anak banyak rezeki”. Menurut saya, banyak anak justru merepotkan. Sekarang untuk pendidikan saja, bayangkan saja jika anak sampai empat, betapa repot kita musti mengeluarkan dana yang banyak, dari SD hingga perguruan tinggi, seperti tidak ada henti. Tidak pernah konsern untuk meningkatkan taraf ekonomi, karena hanya fokus mengurus anak sekolah. Lain halnya kalau hanya satu atau dua, kita sekolahkan sampai perguruan tinggi, kita carikan pekerjaan, selesai sudah tugas kita sebagai orangtua.

Sabrur: Ada tambahan lain, Pak?

Suharno: Oke. Ini sebagai penutup. Begini, saya ini kan orang nasionalis. Jiwa nasionalisme saya menuntut saya untuk berbuat yang terbaik demi kepentingan bangsa dan negara. Memang ada segelintir kelompok Islam, misalnya, yang mengharamkan program KB segala macam. Saya sendiri juga Muslim. Tetapi, saya berpatokan pada ayat Al-Qur’an yang menyatakan: Quu anfusakum wa ahliikum naaraa, jaga dirimu dan keluargamu dari api neraka. Ketika anak kita banyak, sehingga kita repot untuk memberi pendidikan dan penghidupan yang memadai, bagaimana mungkin kita dapat menjaga anak-anak kita dari api neraka? Pendidikan yang rendah, derajat kehidupan yang rendah, akan memicu orang untuk terseret dalam ketidakbaikan, yang itu pada akhirnya akan menjerumuskan ke neraka. Tetapi, prinsipnya yang enak begini saja. Kita musti membagi adanya tatanan negara dan tatanan agama. Tatanan negara itu, di dunia ini, di daerah, di Gunungkidul, berpedoman pada Pancasila, UUD 1945, serta perundangan-undangan, perda-perda, dan sebagainya, yang musti kita taati untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. Sedangkan tatanan agama, tujuannya untuk mewujudkan kebahagiaan di akhirat nanti. Nah, bagi orang Islam, misalnya, pedomannya adalah Al-Qur’an dan Hadis. Silahkan kaum Muslim menjalankan keyakinan dan ibadahnya, salat, zakat, puasa, haji, dan sebagainya, untuk meraih kebahagiaan di akhirat kelak. Namun, di sisi lain, tatanan negara untuk mewujudkan kebahagiaan di dunia ini juga jangan diabaikan.


Begitulah kurang lebih hasil wawancara kami dengan Pak Harno dan keluarga. Even itu kami akhiri dengan pengambilan photo bersama, yakni keluarga besar Pak Harno dengan para PLKB yang hadir, juga para staf bidang KB dari BPMPKB Gunungkidul. Bahkan, ada juga kader PPKBD dari dusun Gari, Wonosari, yang ikut hadir. Yang menggembirakan, sebelum kami pamit pulang, ada kabar bahwa esoknya, ipar Pak Harno yang di Nglipar, akan ikut program MOP di RSUP dr Sardjito. Tidak lain, kesediannya ikut adalah berkat sosialisasi dan motivasi yang dilakukan oleh Pak Harno. Jadi, ayo siapa yang akan mengikuti langkah Pak Harno menjadi peserta KB Pria?(*)


[Sabrur Rohim, MSI, PKB Girisubo]

2 komentar:

  1. Ayo siapa menyusul ketua DPRD Gunungkidul. KB Pria, siapa takut...?

    BalasHapus
  2. KABAR BAIK!!!

    Nama saya Aris Mia, saya ingin menggunakan media ini untuk mengingatkan semua pencari pinjaman sangat berhati-hati, karena ada penipuan di mana-mana, mereka akan mengirim dokumen perjanjian palsu untuk Anda dan mereka akan mengatakan tidak ada pembayaran dimuka, tetapi mereka adalah orang-orang iseng, karena mereka kemudian akan meminta untuk pembayaran biaya lisensi dan biaya transfer, sehingga hati-hati dari mereka penipuan Perusahaan Pinjaman.

    Beberapa bulan yang lalu saya tegang finansial dan putus asa, saya telah tertipu oleh beberapa pemberi pinjaman online. Saya hampir kehilangan harapan sampai Tuhan digunakan teman saya yang merujuk saya ke pemberi pinjaman sangat handal disebut Ibu Cynthia, yang meminjamkan pinjaman tanpa jaminan dari Rp800,000,000 (800 juta) dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa tekanan atau stres dan tingkat bunga hanya 2%.

    Saya sangat terkejut ketika saya memeriksa saldo rekening bank saya dan menemukan bahwa jumlah yang saya diterapkan, telah dikirim langsung ke rekening bank saya tanpa penundaan.

    Karena saya berjanji bahwa saya akan membagikan kabar baik, sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi, jika Anda membutuhkan pinjaman apapun, silahkan menghubungi dia melalui email nyata: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com dan oleh kasih karunia Allah ia tidak akan pernah mengecewakan Anda dalam mendapatkan pinjaman jika Anda menuruti perintahnya.

    Anda juga dapat menghubungi saya di email saya: ladymia383@gmail.com dan Sety yang memperkenalkan dan bercerita tentang Ibu Cynthia, dia juga mendapat pinjaman baru dari Ibu Cynthia, Anda juga dapat menghubungi dia melalui email-nya: arissetymin@gmail.com sekarang, semua akan saya lakukan adalah mencoba untuk memenuhi pembayaran pinjaman saya bahwa saya kirim langsung ke rekening mereka bulanan.

    Sebuah kata yang cukup untuk bijaksana.

    BalasHapus