Selasa, 13 Februari 2018

Kera Ekor Panjang Menyerbu Kampung KB

      Jajaran PKB Girisubo secara rutin mengadakan kunjungan ke Kampung KB Nanas, Tileng, Girisubo, setidaknya sebulan sekali. Februari ini kunjungan diadakan pada Senin (5/2) kemarin. Kunjungan dipimpin oleh Hudoyo, SSos selaku koordinator PKB, disertai PKB Sabrur Rohim, SAg dan Prasetyohadi, SPd.

      Dusun Nanas, Tileng, yang menjadi rintisan Kampung KB di Girisubo, memang dusun yang dalam beberapa hal mengalami kekurangan. Misalnya saja, angka pernikahan dini di Nanas ini sangatlah tinggi, setidaknya jika dibandingkan dengan kampung-kampung lain se-Tileng, bahkan se-Kecamatan Girisubo. Selain itu, hal yang cukup memprihatinkan, Nanas belum memiliki gedung balai dusun. Sehingga, kegiatan Kampung KB, apa pun bentuknya, dipusatkan di rumah Dukuh Nanas, Jamal.

      Ketika rombongan PKB sampai di rumah Dukuh, kebetulan Dukuh belum ada, karena masih dalam perjalanan dari kantor balai desa. Namun, tidak lama kemudian, Dukuh tiba di rumahnya yang sederhana itu. Ditemani oleh putrinya, Wahyuni, yang juga kader Kampung KB, Jamal mengucapkan terimakasih atas kunjungan pembinaan dari jajaran PKB Girisubo. 

      Hudoyo, SSos, mewakili jajaran PKB Girisubo menyampaikan tujuan kegiatan pembinaan yakni untuk memantai perkembangan Kampung KB Nanas. Selain itu, disampaikan oleh Hudoyo, bahwa dalam tahun 2018 ini insya Allah kegiatan di kampung KB akan lebih intensif, karena adanya alokasi BOKB yang juga menyasar Kampung KB. Tentang detailnya, nanti akan diinformasikan kemudian.

      Dukuh Jamal menyambut baik informasi tersebut, dan jajaran pengurus Kampung KB siap melaksanakan nantinya. Perkembangan Kampung KB, menurut Jamal, sangat positif. Kesertaan KB meningkat, demikian juga kegiatan-kegiatan Poktan juga intensif, meski hanya sebulan sekali. Potensi pernikahan dini tetap ada, sehingga harus menjadi perhatian pengelola Kampung KB dan BPKB Girisubo.

      Jamal menyampaikan juga, bahwa dunia pertanian di Dusun Nanas dan Ngasem belakangan ini sedang resah karena gangguan kera ekor panjang yang merusak lahan pertanian warga, terutama lahan palawija, sehingga warga terancam gagal panen. "Jumlah mereka ribuan, dari keras dewasa hingga kera kecil, semua menyerbu tanpa kenal waktu. Makanya, para petani sering bermalam di areal ladang untuk menjaga tanamannya. Meski demikian, usaha tersebut sebenarnya kurang efektif, karena jumlah mereka ribuan. Praktis, sebenarnya bagi para petani di Nanas dan Ngasem, utamanya yang lahannya di sekitar sini, panen hanya setahun sekali, karena serbuan kera ekor panjang tanpa kenal waktu."

       Menurut Jamal, beberapa waktu lalu pihak Dusun sudah mengundang seorang dari suku Badui untuk menangkap kera-kera tersebut, tetapi hanya bisa menangkap 25 ekor. Jadi sangat tidak membantu. "Kami berharap, dari dinas atau OPD terkait bisa mengambil kebijakan bagaimana untuk memberantas kera ekor panjang ini, karena benar-benar mengganggu petani, menjadi hama, dan sangat merugikan petani. Banyak petani nangis di Nanas dan Ngasem jika lahannya diserang dan dijarah oleh kera ekor panjang," ujar Jamal.

      Semoga OPD dan Dinas terkait menerima informasi ini dan segera bertindak untuk mengatasinya. Tetap semangat, Pak Jamal...! (*) [Sabrur, Girisubo]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar