Selasa, 20 Maret 2018

Batik Motif "Karangasem", Ikon Baru yang Bernilai Ekonomis dan Strategis


      Salah satu elemen masyarakat yang berperan penting dalam pemberdayaan masyarakat dan keluarga adalah PKK. Dengan seluruh kader desa yang ada, PKK telah berhasil menjangkau keluarga yang berada pada akar rumput di masyarakat. Banyak hal yang telah dicapai oleh PKK, namun masih memerlukan upaya konkrit dalam memberikan kontribusi yang nyata.  Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera  (UPPKS) yang berada dibawah naungan kegiatan PKK tingkat desa merupakan wadah pemberdayaan ekonomi masyarakat yang sebagian besar anggotanya adalah peserta KB dari Keluarga Pra-Sejahtera dan Keluarga Sejahtera yang aktif berusaha secara kelompok. Melalui usaha produktifnya, UPPKS diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga. Interaksi antar anggota kelompok diharapkan dapat pula meningkatkan kesertaan ber-KB anggota kelompok dan masyarakat sekitarnya. Dengan peningkatan kesejahteraan, diharapkan kesertaan dan kesinambungan ber-KB dapat ditingkatkan.
     Gunungkidul sebagai destinasi pariwisata  baru yang sedang menjadi tren dan buah bibir memiliki keunikan tersendiri sehingga selalu menarik minat wisatawan. Salah satu minat orang untuk pergi ke ke tempat wisata adalah mencari yang khas, misalnya kuliner, dusun tradisional, dst. Dengan keadaan sekarang ini, sudah selayaknya Gunungkidul memanfaatkan peluang ini karena yang diinginkan wisatawan ‘zaman now’ ialah tempat alami maupun produk berciri khas yang masih terjaga sisi budaya masyarakatnya maupun sumber daya alamnya.
     Gunungkidul memiliki modal yang sangat lengkap, ada pantai yang sangat cantik, ada goa-goa yang unik dan terutama desa-desa yang masih alami. Dengan modal potensi alam dan memiliki modal sosial masyarakat yang tinggi bukan tidak mungkin itu dapat menjadi citra tersendiri bagi para wisatawan.
     Desa Karangasem yang berada di wilayah kecamatan Paliyan konon kabarnya pada dahulu kala adalah sebuah nama desa yang terinsprasi oleh rasa buah asam atau asem yang terasa kecut (masam). Pada masa lampau ada sesepuh yang ngendiko atau berkata, “Ya bener kecut, karang asem kok..” (Ya wajar kalau terasa asam, karena memang ini buah asam kok). Inilah kira-kira asal muasal cikal-bakal nama desa Karangsem. Maka sampai sekarang dinobatkan menjadi nama Desa Karangasem.
     Hal inilah yang ditangkap oleh ibu-ibu anggota PKK Desa Karangasem Kecamatan Paliyan ketika mendapatkan peluang untuk mengikuti pelatihan membatik pada sekitar bulan Juni 2017 dari Dinas Disperindagkop Kabupaten Gunungkidul selama 4 (empat) hari. Mereka yakin, pelatihan ini akan memberikan kontribusi yang positif yang sangat bernilai strategis dan ekonomis yang pada gilirannya akan mendukung industri pariwisata di Gunungkidul.
     Dengan bermodal tekad dan antusiasme yang tinggi, kelompok membatik “Maju Makmur” yang diketuai oleh Sulastri, bendahara Nurhayati, dan sekretaris Yuniasih ini memberanikan diri untuk meneruskan usaha agar menjadi sebuah usaha ekonomi yang produktif. 
      Kelompok “Maju Mapan” ini juga telah melakukan study banding ke sentra batik di Tancep, Ngawen, dalam upaya memperdalam ilmunya, sehingga dari berbagai ide dari ibu-ibu anggota yang berjumlah 15 sd 20 orang ini muncul lah ide untuk membuat batik motif khas “Karangasem” yang cukup unik, yaitu berupa kombinasi pola karang dan asem.

     Pola “Karangasem” ini cukup unik sehingga diyakini mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dan itu terbukti sudah ada beberapa pesanan yang masuk baik dari pesanan ibu-ibu anggota PKK desa sendiri, ibu-ibu anggota arisan maupun dari bapak dan ibu perangkat pemerintah desa maupun juga dari instansi pemerintah yang berada di wilayah Kecamatan Paliyan. Hal inilah yang makin mempertebal keyakinan dan semangat anggota kelompok membatik “ Maju Makmur” saat ini.
   Untuk permodalan, saat ini kelompok membatik "Maju Makmur” ini selain dari penguatan dari permodalan intern anggota kelompok, juga akan mendapatkan bantuan dari Dana Desa. Tentu saja bantuan permodalan dari pihak luar masih diharapkan untuk memperkuat pembiayaan maupun permodalan bagi kemajuan dan kelancaran kelompok membatik "Maju Makmur” ini,  karena di tahun 2019 diwacanakan Desa Karangasem, bahwa jika kelompok ini maju dan berkembang akan dijadikan sentra batik di wilayah Kecamatan Paliyan.
     Untuk saat ini batik di Desa Karangasem melayani batik dalam bentuk batik tulis yang cukup unik dan juga batik dalam bentuk cap dalam upaya mengikuti perkembangan zaman dalam usaha dan industri batik pada dewasa ini.
     Untuk harga sebenarnya sangat ekonomis mengingat keunikan dari batik ini. Untuk batik tulis berkisar pada harga Rp  200.000,00, sedangkan untuk batik cap berkisar pada harga Rp 80.000,00 sd Rp. 90.000,00. Semuanya bervariasi sesuai motif yang diinginkan.
  Sekarang tergantung kita sebagai masyarakat Gunungkidul. Ibu-ibu PKK Desa Karangasem Kecamatan Paliyan  telah menjadi pelopor dan berkarya nyata dan telah mengikuti tren busana batik yang semakin meningkat. Dengan perkembangan desain batik yang mengikuti tren fashion modern, hal ini dapat menjawab tantangan perkembangan batik warisan budaya bangsa Indonesia. Batik kita ini tidak hanya sekadar dapat digunakan untuk sejumlah acara resmi, akan tetapi juga dikenakan dalam berbagai macam acara dan suasana apapun baik ketika pergi ke kantor, maupun jalan-jalan atau sekedar santai di rumah. Keberadaan batik kini terlihat semakin membooming dan tampak pula tidak hanya orang tua yang berminat kepada batik, tetapi juga anak muda yang semakin banyak menggunakan batik. Motif dan model batik saat ini semakin berkembang secara modern, desain yang semakin kreatif telah mampu memadukan kain tradional batik secara modern, Kombinasi inovasi dalam hal motif, serta warna hingga model merupakan salah satu syarat agar menyelaraskan batik dengan kemajuan zaman. Batik lahir dengan lebih modern dan baru dengan tampilan yang lebih cantik dan eksklusif dan dinamis. Inovasi dan perkembangan batik telah  mendapatkan respon positif, namun tantangannya sekarang adalah bagaimana membuat batik dapat menjadi produk unggulan. Hal ini sangatlah memungkinkan jika kita sendiri sebagai warga masyarakat Gunungkidul dapat mencintai produk dalam negeri sendiri. Caranya sederhana saja, yaitu dengan hanya mengenakan baju batik, kita sudah ikut melestarikan sekaligus mempromosikan batik warisan budaya bangsa kita. Semoga. (*) [Bagus Setiawan Bayuaji, Penyuluh KB Desa Karangasem]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar