Rabu, 14 Maret 2018

PKB Playen: “Hadapi Hidup dengan Sabar dan Syukur”


Diikuti oleh tak kurang dari 80 peserta ibu-ibu yang hampir 90 persen para lansia, penyuluhan “Upaya Meningkatkan Ketahanan Jiwa Menghadapi Stres Akibat Berbagai Persoalan Hidup” disampaikan di dalam pertemuan rutin ibu-ibu PKK di Balai Dusun Gading V, Desa Gading, Kecamatan Playen, oleh Koordinator PKB Kecamatan Playen, Drs Edy Pranoto.

     Acara ini dibuka dengan menyanyikan Mars PKK yang diikuti oleh semua hadirin. Meskipun hampir 90 persen peserta sudah menyandang lansia, namun semua tampak bersemangat melantunkan syair Mars PKK yang berisi 10 Program Pokok PKK itu.

     Dalam kesempatan tersebut, Yusuf Ngadirejo selaku Dukuh Gading V membuka sambutannya dengan membahas isi pokok Mars PKK, yang menurut beliau isinya cukup mendalam. Beliau mengajak agar warga PKK ikut mewujudkan syair Mars PKK tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Beliau menambahkan, melalui hidup bergotong-royong yang sudah menjadi tradisi dan bahkan budaya kita, akan memudahkan masyarakat dalam menghadapi persoalan kehidupan termasuk dalam keluarga.

     Dukuh juga menambahkan agar warga mulai melek administrasi, artinya supaya kita sesegera mungkin meng-update data perubahan yang ada dalam status anggota keluarga kita agar selalu sesuai dengan data dalam administrasi kependudukan. Dalam kesempatan ini beliau juga meminta agar warga segera mengambil KTP maupun Kartu Keluarga yang sudah jadi di Balai Desa Gading.

     Sementara itu, Mugiyantini, Ketua Tim penggerak PKK Dusun Gading V, mengajak agar anggota PKK selalu menjaga kesehatan anggota keluarga di masa memasuki musin pancaroba ini. Beliau juga mengingatkan perlunya mendidik anak tidak hanya pandai di bidang akademis, namun agar dididik pula aklaknya, sehingga akan menjadi anak yang berbakti serta tidak menimbulkan masalah dimasyarakat dikemudian hari.

     Giliran PLKB dari Kecamatan Playen yang berbicara diawali dengan menyampaikan data jumlah orang yang mengalami gangguan jiwa di desa Gading, Kecamatan Playen pada tahun 2017 ada 18 laki-laki dan 8 perempuan (sumber dari Puskesmas Playen I). Jumlah 26  ini menempatkan Gading pada posisi kedua setelah Desa Ngunut dalam ranking data orang yang punya ganguan kejiwaan. 

     Jumlah ini hanya yang terdata di Puskesmas, sementara yang tidak terdata di Puskesmas jumlahnya mungkin lebih banyak lagi. Orang dengan gangguan kejiwaan dari taraf stress hingga depressi bahkan skizofrenia ada kecenderungan memiliki perasaan putus asa yang mendalam  karena  menghadapi persoalan kehidupan. Rasa putus asa inilah, kata Edy, yang mengkondisikan seseorang terdorong untuk melakukan tindakan nekat mengakhiri kehidupannya.  Data menunjukkan bahwa ditahun 2017 angka bunuh diri di Kabupaten Gunungkidul ada 29 kasus yang 16 kasus diantaranya disebabkan oleh faktor depresi.

     Anggota PKK yang hadir sekitar 70 orang sendiri berusia lanjut. Biasanya diusia senja ini ditandai dengan semakin mundurnya fungsi-fungsi organ fisik manusia, juga ditandai dengan semakin mundurnya berbagai kemampuan  non fisik yang ada pada usila. Dimulai dari semakin berkurangnya penghasilan ekonomi, berkurangnya kemampuan berinteraksi sosial, menurunnya jaringan sosial karena ditinggalkan oleh pasangan hidup, ditinggalkan oleh teman sebaya, dsb. Sementara kebutuhan hidup baik makan, pakaian, papan, kebutuhan untuk sosial , keagamaan tetap terus perlu dicukupi. Keadaan inilah senyatanya yang dihadapi oleh masyarakat kita. Belum lagi kalau si usila mengalami sakit yang menahun, dengan tidak adanya jaminan kesehatan yang menanggungnya, atau bahkan mungkin hanya karena kurangnya kepedulian anggota keluarga didalam perawatan, terkadang sudah membuat kondisi si usila mengalami ketersinggungan emosi yang berakhir dengan rasa putus asa yang cukup mendalam. Kondisi ini bisa memicu terjadinya upaya mengakhiri hidup.

     Dalam wawancara Edy dengan Dukuh Gading V sebelum acara ini dimulai, terungkap juga kalau para lansia juga mengalami beban ekonomi sekaligus tekanan kejiwaan yang diakibatkan oleh keadaan yang memaksa. Maksudnya adalah tidak sedikit lansia yang harus merawat cucu dengan ekonomi yang serba pas, sementara bapak dan ibu si anak sedang bekerja di luar kota dan pulang setiap bulan atau bahkan setahun sekali ), sementara kiriman uang untuk biaya hidup belum bisa diharapkan dengan pasti. Inilah salah satu dampak lain dari perkawinan yang tidak direncanakan. orang tua (kakek, nenek) menjadi sandaran hidup bagi keluarga muda.
Guna menghadapi persoalan hidup yang komplek inilah, Edy Pranoto menawarkan solusi sederhana yang sangat perlu dijiwai dan dijadikan perlindungan diri dari serangan penyakit stres yang bisa mengarah pada depresi bahkan mendorong orang untuk bunuh diri. Solusi yang dimaksud adalah kita harus mempunyai sikap sabar dan syukur. Sabar dalam menghadapi persoalan hidup, sabar dalam menghindari perbuatan jahat, serta sabar di dalam menunaikan kebaikan. Tanpa rasa sabar yang tinggi, di zaman yang serba cepat perubahannya akan membuat seseorang mudah goyah terombang-ambing oleh situasi yang serba tak menentu dan banyak kejutan yang tidak menyenangkan. Disamping sabar, Sikap syukur juga perlu diaktifkan secara optimal dalam jiwa kita. Hanya dengan bersyukur kita akan merasa tentram, tidak akan mengumbar hawa nafsu, serta mampu melihat segala peristiwa yang terjadi atau sesuatu yang kita miliki dari sisi positifnya. Sikap sabar dan syukur inilah yang akan meningkatkan ketahanan jiwa pada lansia.

     Hal lain yang perlu dimiliki lansia yaitu sikap “ndableg”, artinya memiliki sifat cuek, tidak mudah tersinggung kalau ada sesuatu yang tidak mengenakkan perasaan. Hal ini penting agar perasaan lansia tidak mudah cemas, gelisah, sedih, susah, tidak percaya diri dan sebagainya bila mana ada tekanan yang datang dalam hidupnya. Edy menandaskan, jangan sampai ada yang bunuh diri lagi di Playen ini, cukup dua saja yang sudah terjadi sampai bulan Maret di tahun 2018 ini. Bunuh diri bukanlah akhir dari penderitaan hidup, karena setelah mati masih ada kehidupan yang abadi.
Pertemuan PKK ini diakhiri dengan mengecek PUS usia dibawah 45 tahun yang hadir, yang ternyata jumlahnya ada 7 orang dan sudah ikut program KB semua.(*) [Edy Pranoto, Playen]





Tidak ada komentar:

Posting Komentar